BISNIS PULSA PALING MURAH

PRODUK KODE PRODUK HARGA
AS5 AS5 5450
AS10 AS10 10450
AS15 AS15 15700
AS25 AS25 25500
AS50 AS50 49800
SIMPATI 5 S5 5450
SIMPATI 10 S10 10450
SIMPATI 20 S20 20300
SIMPATI 50 S50 49800
SIMPATI 100 S100 97650
XL BEBAS 5 XB5 5500
XL BEBAS 10 XB10 10500
XL BEBAS 25 XB25 25200
XL BEBAS 50 XB50 49800
IM3 5 IM5 5600
IM3 10 IM10 10800
IM3 25 IM25 25400
IM3 5O IM50 49200
MENTARI 5 M5 5600
MENTARI 10 M10 10800
MENTARI 25 M25 25400
MENTARI 50 M50 49200
FLEXI 5 F5 5250
FLEXI 10 F10 10150
FLEXI 25 F25 KSNG
FLEXI 50 F50 46950
FREN 10 FR10 KSNG
FREN 25 FR25 KSNG
FREN 50 FR50 KSNG
FREN 100 FR100 KSNG
TRI 5 T5 5650
TRI 10 T10 10150
TRI 25 T25 24900
TRI 50 T50 49150
TRI 100 T100 99300
FORMAT TRANSAKSI FORMAT TRANSAKSI :
A. Cara Pengisian pulsa Kartu simpati: Kode voucher.HP TUJUAN.PIN
Format : Contoh: S10.081355508000.1234
B. Cara pengisian kartu As :kode voucher.HP TUJUAN .PIN
Format : Contoh : AS10.085255541567.1234
Transaksi pada tanggal yang sama dan nomor yan sama dapat dilakukan dengan cara mengganti kode (s) dngn SD,dan AS dengan AD
C. Cara cek saldo :Rs.dep:Pin
D. Format: Contoh :Rs.dep:12345
E. Ganti Pin :Rs.pin=pin baru;pin lama
Format : Contoh : Rs.pin=5566;12345
F. Buat Hp Pararel :INFO.Pararel NO HP Pararel;Pin
Format : Contoh : INFO.Pararel 085255541567;12345
G. Memdaftar Sub Agen :Reg.Nama.No Hp.Kota.bonus;Pin
Format : Contoh :Reg.Putri.085255541567.makassar.250;12345
H. Transfer Deposit Sub Agen :Kirim.ID Sub Agen.Jumlah.Pin
Format : Kirim.MV123.100000.12345
I. Kmplain /Saran :INFO.Isi Komplain Anda
Format : Contoh :INFO.Transaksi As10 Tujuan 085255541567 tgl 15/5/09 blm terkirim
J. Komplain transaksi paling lambat kami layani 5 (hari) setelah transaksi
K.cara paralel nomor hp :Ketik paralel.Nomor hp pararel.pin
L.cara mengecek harga-harga prodak :Rs.prd=kode prodak;pin
contoh :rs.prd=as5,as10,as25;1234
M.Cara merubah bonus agen:Bonus.mv agen.nominal bonus.Pin NOMOR CENTER
085255535551
085656325552
Fatwa Al Azhar Terkait Tembok Baja Mesir "Cacat Hukum"


Pemerintah Mesir tak henti-hentinya mencari dukungan menguatkan proyek gilanya membangun tembok baja yang memisahkan Mesir dan Gaza. Kali ini dukungan yang dicari dan cukup berpotensi kuat berasal dari kampus ternama dan tertua, Al Azhar As Syarief.


Sebagaimana yang diberitakan beberapa media, Al Azhar melalui Majma' Al Buhuts-nya telah membenarkan pembangunan tembok pemisah, namun setelah ditelusuri ternyata pernyataan tersebut menyalahi UU sehingga kekuatan fatwa tersebut dipertanyakan.

Hal ini disampaikan oleh salah satu anggota legislatif dari kelompok Independen, Prof. Dr. Ali Laban yang juga berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Ia mengatakan, fatwa tersebut tidak sah karena menyalahi ketentuan yang ditetapkan oleh Majma' Al Buhuts itu sendiri. "Tidak diikut sertakannya anggota Majma' Al Buhuts yang berasal dari luar Mesir dalam menetapkan fatwa, telah melanggar UU yang ditetapkan oleh Al Azhar", jelas Ali Laban.

Dalam penjelasannya kepada Aljazeera.net, Ali Laban mengatakan, fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Majma' Al Buhuts hanya disepakati oleh anggota lokal-dari Mesir-saja, "Seharusnya pengambilan fatwa itu mengikutsertakan seluruh ulama negara-negara Islam dan juga para ahli mazhab, karena Al Azhar merupakan organisasi Muslim Internasional dan bukan organisasi lokal", lanjut Ali Laban menjelaskan kesalahan dalam penatapan fatwa itu.

Laban kemudian menambahkan, kesepakatan dari fatwa pembenaran atas pembangun tembok baja telah menyalahi pasal 22 dari UU Al Azhar yang mensyaratkan sahnya sebuah keputusan diambil berdasarkan kehadiran minimal seperempat anggota Majlis Majma' Al Buhuts dari luar Mesir. Dan juga melanggar pasal 15 yang mensyaratkan harus adanya kesepakatan dari anggota non Mesir dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan masalah aqidah.

Dalam posisinya sebagai anggota parlemen dari faksi Independen, Laban kemudian dengan keras mengecam sikap PM. Mesir, Ahmad Nazief dengan menyebutnya sebagai Menteri Urusan Al Azhar, karena tindakannya yang selalu menjadikan Al Azhar sebagai tameng untuk melindungi sikap pemerintah. "Keputusan yang dikeluarkan dari Majlis Majma' Al Buhuts selama ini adalah "dusta" yang dinisbatkan kepada Al Azhar guna mendapatkan legalisasi atas sikap pemerintah Mesir terhadap pembangun tembok baja", jelas Ali Laban.

Dirinya juga berencana memanggil Departemen Urusan Agama Mesir guna mengkaji hal ini. "Ini merupakan pembohongan publik, karena pernyataan ini sangat sensitif dan rawan melukai nilai kebangsaan baik Mesir mau pun Palestina," lanjut Ali Laban.

Ulama Al Azhar: Tembok Baja, Haram!

Sejak jauh hari, para syeikh dan ulama Al Azhar telah mengelurkan pernyataan sikap yang dengan jelas "mengutuk" sikap pemerintah Mesir terhadap pembangunan tembok pemisah Refah dan Jalur Gaza, dengan tegas mereka katakan upaya itu adalah "haram" baik dilihat dari kacamata hukum mau pun kemanusiaan.

Para Ulama Al Azhar meminta kepada para pemimpin negara-negara Arab dan Islam untuk segera mengadakan konferensi bersama guna menentukan sikapnya terhadap proyek pembangun tembok baja Mesir.

Diantara ulama yang lantang menyuarakan hal ini adalah Syeikh Sayid 'Askar, mantan Sekjen Majlis Majma' Al Buhuts yang kini menjabat sebagai anggota parlemen yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, kemudian ulama dari anggota aktif Majlis Majma' Al Buhuts, Syeikh Muhammad Rawi dan juga Dr. Musthofa Asyak'ah. (sn/alj/eramuslim)
NASKAH KHUTBAH SERAGAM
IDUL FITRI 1430H/2009 M
Dewan Syari’ah wahdah islamiyah


TAQWA BANGKITKAN HARAPAN



ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستهدي ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا, من يهده الله فهو المهتد ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله,
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 
 يَا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا () يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أما بعد...
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلي الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.



Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Hari ini, di pagi ini…..
Dibawah langit yang tiada bertiang, di atas bumi yang membentang ...
Kita semua berkumpul , untuk ruku’, sujud dan menundukkan seluruh jiwa dan raga kepada Rab, Pemilik sejati langit dan bumi, Pemelihara semua yang ada,
Al Malik, Sang Raja di atas segala raja,
Al Khaliq , Sang Pencipta semua dari tiada ....
Dia lah Allah Subhanahu wata’ala.
Satu – satunya yang berhak untuk disembah, satu-satunya yang berhak mendapatkan ruku’ dan sujud kita, satu-satunya yang berhak mendapat persembahan jiwa dan raga kita.

Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar . Laa ilaha illallah wallahu akbar...
Allahu akbar walillahilhamd!

Hari ini kita bergembira , bukan karena telah berpisah dengan bulan tercinta Ramadhan yang penuh berkah, bukan karena merasa terbebas dari kewajiban shaum di dalamnya, sama sekali bukan…

Namun kegembiraan kita adalah karena Allah Azza wajalla telah menolong kita untuk menyelesaikan kewajiban padaNya di bulan ramadhan, kegembiraan kita bahkan karena kita masih memilki kerinduan pada Ramadhan, kerinduan pada syahdunya beribadah di dalamnya , kegembiraan kita kegembiraan imani ….

          
. Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".(QS.Yunus : 58)

Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Di balik kegembiraan itu terbersit seberkas kegalauan, bahwa ternyata ummat ini sekali lagi mendapat cobaan…Dakwah Islamiyah yang semakin berkembang dewasa ini terlebih khusus dakwah Ahlussunnah yang semakin memancarkan cahayanya, kembali mendapat ujian dengan semakin maraknya tudingan yang mengaitkannya dengan berbagai aksi kekerasan dan terorisme .
Bahkan beberapa bentuk identitas sunnah yang Islami menjadi sasaran stigma negatif seperti jenggot dan cadar atau hijab. Padahal apa salah jenggot dan cadar? Apa salah celana seorang muslim di atas mata kaki???
Apakah jika kebanyakan koruptor sering memakai jas dan dasi, apakah tepat jika kita serta merta menuding setiap orang yang memakai dasi dan jas sebagai koruptor??

Islam, ajaran yang mulia ini, yang mengajarkan arti sesungguhnya dari kemanusiaan justru tertuding oleh pihak – pihak yang justru selama ini tangan – tangan mereka telah berbelepotan darah kaum muslimin. Sungguh suatu ironi yang memilukan sekaligus memalukan.

Sungguh Al Qur’an yang telah menyerukan seruan paling manusiawi dalam perang sekalipun :

               •    
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak Mengetahui. (QS.At taubah ; 6)

Sungguh Islam adalah ajaran perdamaian dan kedamaian telah diserukannya sejak fajar kelahirannya. Bahkan Islam dengan syari’atnya yang agung telah menggambarkan peta kehidupan bagi manusia, agar mereka dapat sampai pada dunia yang aman, damai, dan bahagia.
Bukankah lafal Al Islam sangat dekat dengan kata As Salam yang berarti perdamaian, yang keduanya memberi makna ketenangan, keamanan, dan ketentraman?
Begitu juga, bukankah salah satu di antara nama Allah adalah As Salam yang berarti pemberi keselamatan dan keamanan, dengan apa yang disyari’atkan-Nya berupa nilai dan manhaj dalam kehidupan?
Pembawa risalah ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam pun oleh Allah yang mengutusnya, dikatakan sebagai rahmat bagi alam semesta. Perhatikan lah firman Allah:

     
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS.Al Anbiya’ :107)

Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Tudingan seperti itu tentu semakin menambah sederet problema yang membelit ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ini.
Belum lepas dalam ingatan kita bagaimana kejamnya zionis yahudi la’natullah ‘alaih membantai kaum muslimin di Palestina, semakin kalutnya situasi di Iraq dan Afganistan, carut –marutnya keadaan di Somalia, dan serangkaian aksi tidak bertanggung jawab berupa kekerasan di sekian banyak negeri muslim.
Belum lagi berbagai krisis dan bencana di negeri kita yang datang silih berganti.

Wallahul Musta’an wa huwa Hasbuna wani’mal wakiel

Kondisi ini sesungguhnya tidak boleh membuat kita mundur. Apa lagi patah semangat, justru inilah ujian dari Allah Ta’ala , yang dengan penyikapan cerdas kita dapat mengasah dengannya ketajaman pisau keimanan kita.

 ••     •      •           
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabut : 2-3)

Ingatlah kaum muslimin yang dirahmati Allah, bahwa Allah Subhanahu wata’ala mempergilirkan kesempatan dalam kehidupan dunia ini :

     ••             
Dan demikianlah hari –hari itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada' dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,
( QS.Ali Imran : 140)

Dan terkadang pertolongan itu datang pada saat puncak cobaan dan ujian :

•     •               
Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi , dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa K ami dari pada orang-orang yang berdosa. (QS.Yusuf :110)

Bukankah fajar kan menyapa setelah malam gelap gulita ?
Bukankah hujan kan turun dengan izinNya setelah lama kemarau menerpa?
Bukankah di setiap hari ada kematian pada hari itu pula ada kelahiran?

Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Jika demikian halnya, maka kata kunci bagi kita adalah ” BANGKIT” !
Sebagaimana para pendahulu kita telah membuktikan, bahwa mereka dengan izin Allah sanggup bangkit dari keterpurukan yang membelenggu.

Bukankah Shalahuddin Al Ayyuby-Rahimahullah, bangkit membebaskan Al Aqsha setelah 90 tahun lebih dalam penjajahan kaum salibis?

Bukankah Sulthan Mahmud Qutuz – rahimahullah, bangkit memporak porandakan kekuatan penjajah Mongolia dalam perang Ain jalut (Tahun 658 H) hanya beberapa tahun setelah bangsa Mongol membantai kaum muslimin di Bagdad (656 H)

Bukankah Sulthan Muhammad Al Fatih dengan gilang gemilang bangkit menaklukkan Constantinopel (tahun 857H) sekaligus membebaskan penduduknya dari kekejaman dan kezaliman Romawi , beberapa tahun setelah kaum muslimin dihabisi oleh kaum nasrani di Andalus (Spanyol)?

Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Demikianlah umat ini akan selalu bangkit dari setiap keterpurukannya, dengan izin Allah Azza wajalla melalui sebab para mujahid dan mujaddidnya.Rasulullah Saw bersabda :


إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا
Sesungguhnya Allah mengutus buat umat ini setiap awal seratus tahun orang yang mentajdid bagi mereka urusan agamanya
(HR.Abu Dawud dan Al Hakim)

Dalam riwayat yang lain beliau menegaskan :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

Selalu ada Thoifah (kelompok) dari umatku yang tegak di atas perintah Allah, tidak memberi mudarat orang yang hendak menghinakan atau menyelisihi mereka sampai datangnya keputusan Allah dan mereka mendapat pertolongan atas manusia. (HR.Al Bukhari dan Muslim)


Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Kaum Muslimin , wahai umat yang terpilih !

Ketahuilah bahwa kebangkitan bukan sebatas bernostalgia dengan kenangan manis sejarah pendahulu kita, kebangkitan bukan duduk berpangku tangan, kebangkitan adalah : bergerak, bekerja dan berdoa.

Kebangkitan, adalah upaya konsisten dan terus menerus untuk belajar, lalu berjalan di atas jalan perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya.
Kebangkitan , adalah mulai membangun kepribadian diri yang Islami dan berdisiplin pada segala aturan Allah azza wajalla dalam kehidupan ini.
Kebangkitan , adalah berarti bangkit membina kehidupan rumah tangga yang Islami, yang rukun dan damai dimana anak berbakti pada orang tuanya, orang tua menyayangi dan selalu membimbing anaknya, setiap saudara saling mencintai karena Allah, yang muda menghormati yang lebih tua dan yang tua menyayangi yang lebih muda. Rambu- rambu Islam selalu menjadi pedoman keluarga pelopor kebangkitan ini.
Kebangkitan , adalah berarti bangkit membangun masyarakat rabbani. Yaitu suatu masyarakat yang siap menyambut cahaya Islam dengan perasaan gembira dan bahagia. Mereka adalah masyarakat yang bertauhid pada Allah , menghambakan diri hanya pada-Nya. Mereka adalah masyarakat yang adil dan menunaikan semua hak dan kewajiban setiap anggotanya.
Kebangkitan, adalah berarti bangkit menegakkan keadilan, asas dari ketentraman dan keselarasan hidup. Karena kezhaliman hanya akan membawa perselisihan, keonaran bahkan pertumpahan darah. Keadilan bahkan terhadap musuh sekalipun, firman Allah Ta’ala :
          •            •        
“Wahai sekalian orang-orang yang beriman, hendaknya kamu selalu menjadi orang-orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu pada satu kaum mendorong engkau tidak berlaku adil, berlaku adillah karena sesungguhnya berlaku adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan, dan ber-taqwalah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.“ (QS.Al Maidah:8)
Kebangkitan adalah bangkit menggali potensi umat dan menyatu padukannya dalam satu ikatan yang di landasi manhaj yang haq yang bertumpu pada Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana diamalkan dan dijabarkan oleh as salaf as sholih.
 وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ 
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.. (Imran :103)
Kebangkitan adalah bangkit untuk taat dan patuh pada Allah Azza Wajalla, dan bangkit menolak semua kedurhakaan dan kemaksiatan padaNya.

Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Konsekuensi dari hal itu, adalah bahwa kita harus lebih semangat lagi untuk belajar tentang Islam, karena dengan ilmu yang kuat dan shohih Insya Allah umat ini akan terbentengi dari pemahaman menyimpang yang sengaja hendak dihembuskan oleh musuh-musuhnya.
Kaum Muslimin yang dirahmati dan dikasihi Allah!
Menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab kita semua, termasuk para insan pers.Masa ini kita menyaksikan betapa berkuasanya media mengarahkan dan mengatur opini publik, hingga yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar.
Dalam kesempatan yang mulia ini kami menyerukan agar saudara – saudara kita yang bergelut di media selalu menjadikan akhirat sebagai landasan berpikir dan bertindaknya. Alangkah indahnya dunia jika diisi dengan tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, membangun moral dan akhlak yang mulia.
Sebaliknya akan semakin runyam dan memprihatinkan kondisi kita dengan tontonan dan acara yang tidak mendidik , pamer aurat dan mendangkalkan aqidah akhlak .
Dan jangan pula anda terjebak dalam memojokkan Islam dan da’wah menuju kebenaran ini,apalagi menjadi hasud dengan hidayah yang menerpa seseorang, lalu mengungkap masa lalunya yang kelam yang ia sendiri tak rela akan hal itu.Sungguh kehormatan seorang muslim sangat penting untuk dijaga dan dihargai.
Andalah wahai praktisi media yang bertanggung jawab akan hal ini!
Kepada para pemuda Islam harapan umat. Di pundak anda amanah ini diletakkan, ditangan anda estafet perjuangan ini diserahkan.Jangan pernah menyia-nyiakannya!
Pelajarilah Islam dengan tekun dan disiplin dari sumbernya yang paling bersih ; Al Qur’an Al karim dan Sunnah sebagaimana dipahamai dan diamalkan generasi terbaik umat ini para sabahat Rasulullah Shallahu ’alaihi wasallam , dan para ulama salaf Ar rabbaniyun.
Dengan ilmu yang benar akan terbentengi Insya Allah dari penyikapan tasyaddud (sikap ekstrim) maupun tahrif (penyimpangan) yang sangat tasahul (serba boleh).
Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!

Dan kepada anda wahai ibunda kami , tiang negera dan madrasah umat. Lahirkan manusia utama yang bertauhid dan berakhlak mulia, jadikan aqidah shohihah sebagai gizi utama jiwa mereka, tempa mereka teladan yang baik melalui tangan–tangan anda yang lembut nan tegar, andalah wahai para ibunda benteng aqidah dan akhlak umat ini, andalah harapan kami.
Kemudian kepada anda wahai saudariku …. putri Muslimah yang mulia.
Anda terlalu indah untuk dipandang oleh mata-mata liar penuh khianat, jangan biarkan itu terjadi.Kenakanlah pakaian kemuliaan dan kehormatanmu. Tutup aurat dengan busana Muslimah yang agung nan anggun. Hijabkan dirimu lahir dan batin ......
Bagai perhiasan emas dan intan berlian yang yang tertata dan terjaga rapi dalam kotak-kotaknya, hanya pemiliknya yang berhak melihat dan menikmatinya. Jadilah wanita shalihah, karena ia adalah seindah-indah perhiasan dunia ini.

Allahu akbar.... Allahu akbar.... Allahu akbar walillahilhamd!
Dan kepada anda para pemimpin negeri ini disemua lini dan jenjang, anda tentu sadar bahwa setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Bersikap adillah kepada rakyat yang anda pimpin, dan keadilan yang sejati itu ada dalam syari’at Ilahi yang mulia, karenanya kepadanyalah hendaknya kita semua meletakkaan landasan pemikiran dan sikap kita.
Bencana demi bencana, krisis demi krisis yang menimpa kita seharusnya menghentak dasar kesadaran untuk kembali kepada Allah, dan menjalankan aturan kehidupan yang dengan kasihNya telah diturunkan buat kita.

Lalu kepada kita semua, anak dari orang tua kita masing-masing, yang dengan dan sebab mereka kita berwujud di dunia ini, yang dengan jerih payahnya kita menjadi seperti sekarang ini.
Jangan lupakan mereka! Jangan sia-siakan mereka!
Bagi anda yang beruntung masih hidup bersama mereka hingga saat ini, ketahuilah bahwa mereka adalah pintu sorga anda, peluang emas keberuntugan anda ! Rasulullah Saw bersabda :

رغِم أنفُ ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُ ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُ مَنْ أدْرَكَ أبَويهِ عِنْدَ الكِبَرِ ، أَحَدهُما أَوْ كِليهمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الجَنَّةَ . رواه مسلم .
Celakalah, kemudian celakalah, kemudian celakalah! orang yang mendapati orang tuanya dalam keadaan sudah tua, salah satu atau kedua-duanya kemudian ia tidak masuk sorga .(HR.Muslim)
Berbaktilah pada mereka, kunjungi , berikan senyum terbaik anda , penuhi apa yang anda sanggupi dari kebutuhannya. Sebelum datang waktunya semua itu tidak dapat lagi anda lakukan , dan tinggal hanya doa yang dapat anda kirimkan buat mereka.
Jangan sampai anda telah menginjak garis kedurhakaan di saat anda tidak menyadarinya.
Akhirnya, marilah kita menundukkan jiwa dan raga kita kepada Allah Azza Wajalla , Rab yang Maha Bijaksana, dan Maha Mulia, seraya mengakui segala dosa dan kenistaan kita di hadapan-Nya. Karena tidak ada sesuatu pun yang kita sembunyikan dari-Nya.

Ya Allah, wahai Dzat yang Maha Perkasa. Tolong lah saudara-saudara kami yang terdzalimi di setiap jengkal BumiMu ini. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk itu.
Rahmatilah mereka –orang –orang tertindas, yang tidurnya tak pernah lelap ditengah dentuman ledakan dan desingan peluru.
Berilah pertolonganMu pada mereka yang bernaung di tenda-tenda pengungsian, terssir dari negeri kampung halamannya hanya karena tetap tegar menyembahMu dan tidak menyembah yang lainnya.
Ya Allah, janganlah Engkau timpakan musibah pada mereka karena dosa-dosa kami ,
Ya Allah berikanlah rahmat-Mu pada negeri ini. Curahkanlah petunjuk dan hidayah-Mu untuk para pemimpin-pemimpin negeri ini, Ya Allah. Agar mereka dapat berlaku adil pada kami, berikanlah pada mereka rasa takut padaMu yang menghalanginya berbuat zalim dan aniaya.
Sesungguhnya tidak ada tempat untuk mengeluhkan masalah kami kecuali pada-Mu, ya Allah.
Ya Allah, jangan biarkan negeri kami ini terjajah oleh siapapun yang memusuhi-Mu, ya Allah. Tegakkanlah panji –panji kebenaran di atas bumi-Mu, yang bernama Indonesia ini, Ya Allah.
Ya Allah, kasihi dan sayangi kami, Ya Allah. Berikanlah jalan keluar bagi setiap persoalan yang kami hadapi. Teguhkan langkah-langkah kami di atas jalan-Mu .
Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu bagi setiap yang tersesat. Berikanlah kedamaian dan perdamaian pada setiap yang tenggelam dalam permusuhan dan pertikaian yang tiada berguna.
Ya Allah, anugerahkan lah keamanan dan kedamaian dalam tuntunan cahaya-Mu untuk negeri ini dan setiap negeri kaum muslimin, ya Allah. Jangan biarkan kezaliman dan keangkaramurkaan menguasai mereka, ya Rabbana
Ya Allah, berikanlah kami rezki yang halal dari sisi-Mu, sehingga dengannya kami menjadi taat kepadaMu. Dan jauhkanlah kami dari rezki yang haram, yang membuat kami menjadi ber-maksiat pada-Mu.

Ya Allah ampunilah kami Ya Allah, ampunilah ibu dan bapak kami, saudara-saudara kami, guru-guru kami dan setiap diri ini Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat.


رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
الأيوبي mengirim pesan kepada anggota ..:::ORMAS ISLAM (WAHDAH):::..

--------------------
Subjek: .::TUNTUNAN IEDUL FITRI::. (Bag. 2)

HUKUM SHALAT ‘IED
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: ”Kami menguatkan pendapat bahwa shalat ‘Ied hukumnya wajib bagi setiap individu (fardhu ‘ain), sebagai-mana pendapat Abu Hanifah dan lainnya. Hal ini juga merupakan salah satu dari pendapat Imam Syafi’i dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Imam Ahmad”.

Diantara dalil yang menunjukkan tentang wajibnya shalat ‘Ied hadits Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
قَدْ اِجْتـــَمَعَ فِيْ يـــَوْ مــِكُمْ هَذَا عِيْدَ انِ : فَمـَنْ شَاءَ أَجْزَ أَ هُ مِنَ الْجُمْعـــَةِ

“Telah berkumpul bagi kalian pada hari ini dua hari raya. Barangsiapa yang ingin (melaksanakan shalat ‘Ied) maka ia telah mercukupi dari shalat jum’at…”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dalil ini menunjukkan bahwa shalat ‘Ied dapat menggugurkan kewajiban shalat Jum’at apabila bertepatan waktunya (yakni hari ‘Ied jatuh pada hari Jum’at). Sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin dapat menggugurkan sesuatu yang wajib. Dan dalil yang lain adalah hadits Ummu ‘Athiyah رضي الله عنها:
كُـنـَّـا نـــُؤْمــَرُ أَنْ نــَخْـرُ جَ يـَوْمَ الْعِيْدِ حَـتـَّى تـَخـْرُ جَ الْبِكْرُ مِنْ خِدْرِهَاوحَـتــَّى تـَخْـرُ جَ الْحُيـَّضُ فــــَيـَكُـنَّ خَلْفَ النـــَّـاسِ


“Dahulu kami diperintahkan untuk keluar (shalat ‘Ied) pada hari raya hingga gadis-gadis pingitan keluar dari kamarnya bahkan mereka yang tengah haid dan mereka berada di belakang orang-orang” (HR. Jama’ah kecuali Abu Daud)

Imam Asy Syaukani رحمه الله menjelaskan : “Dan beliau memerintahkan manusia untuk keluar mengerjakannya, sehingga menyuruh wanita-wanita yang merdeka, gadis-gadis pingitan dan wanita yang haid. Beliau menyuruh wanita-wanita yang haid agar menjauhi shalat dan menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Bahkan Beliau menyuruh wanita yang tidak memiliki jilbab agar dipinjamkan oleh saudarannya. Kesemuanya ini menunjukkan bahwa shalat Ied hukumnya wajib 'ain dan bukan wajib kifayah…" (As Sail Al Jarror 1:315)

Syaikh Al Albani رحمه الله mengatakan: ”Maka perintah untuk keluar yang disebutkan menunjukkan wajib. Jika diwajib-kan keluar (ke tanah lapang) berarti diwajibkannya shalat lebih utama sebagaimana hal ini jelas tidak tersembunyi. Maka yang benar hukumnya adalah wajib tidak sekedar sunnah…” (Lihat : Tamamul Minnah hal. 344)

HAL-HAL YG BERKAITAN DENGAN SHALAT ‘IED
1. Dimulai saat terbitnya matahari ± setinggi tombak, disunnahkan mengerjakan shalat ‘Iedul Adha pada awal waktu dan melambatkannya pada shalat ‘Iedul Fitri dan akhir waktu shalat pada saat tergelincirnya matahari (Lihat : Minhajul Muslim hal. 278)

2. Shalat ‘Ied dilakukan di tanah lapang (HR. Bukhari Muslim)

3. Membawa tombak atau semacamnya untuk ditancapkan di depan tempat Imam sebagai sutrah (pembatas) (HR. Bukhari)

4. Shalat ‘Ied dilakukan sebelum khutbah (HR. Jama’ah kecuali Abu Daud)

5. Shalat ‘Ied tanpa didahului Adzan dan Iqomat (HR. Jama’ah kecuali Nasaa’i dan Ibnu Majah)

6. Shalat ‘Ied dua raka’at (HR. Ahmad)

7. Jumlah takbir pada raka’at pertama 7X (selain takbiratul ihram) dan pada raka’at kedua 5X (selain takbir ketika bangkit dari sujud) dan takbir dilakukan sebelum membaca Al Fatihah (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

8. Mengangkat tangan setiap takbir sebagaimana yang dikerjakan oleh Ibnu Umar رضي الله عنهما (Lihat Za’adul Ma’ad 1:443)

9. Belum didapatkan hadits shahih marfu’ yang menerangkan bacaan Rasulullah صل اللة عليه وسلم diantara takbir namun Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata :
بــَـيْنَ كُلَّ تــَكْبـــِيْرَ تــَـيْنِ حَمْدٌ ِللهِ وَ ثــــَـنــَـاءٌ عَلىَ اللهِ

”Diantara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah سبحانه وتعلى (R. At Thabrani)

Imam An Nawawi رحمه الله menyebut-kan do’a yang dibaca diantara takbir ter-sebut:
سُـبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ لِلّهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

“Subhanallahi Walhamdulillahi Wala Ilaha Illallahu Wallahu Akbar”

10. Disunnahkan membaca surah Al A’laa pada raka’at pertama dan surah Al Ghoosyiyah pada raka’at kedua (HR. Muslim)

11. Tidak ada shalat sebelum dan sesudah shalat ‘Ied (HR. Bukhari, Tirmidzi, Nasaa’i dan Ibnu Majah)

12. Dibolehkan mengerjakan shalat ‘Ied pada hari kedua jika luput (ada udzur) pada hari pertama (HR. Abu Daud dan Nasaa’i)

13. Jika tidak sempat shalat jama’ah bersama Imam boleh mengerjakannya sendiri di rumah dua raka’at. (lihat Fathul Bari 2:550)

14. Membaca do’a Iftitah sebelum takbir 7 X (Lihat Zaadul Ma’ad 1:443)

UCAPAN SELAMAT PADA HARI ‘IED
Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله: “Telah diriwayatkan kepada kami dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair ia berkata: ”Para shabat Rasulullah صل اللة عليه وسلم jika bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya :

تــَقـــَبــَّلَ اللهُ مِنـــَّـا وَ مــِنـْكَ
”Taqabbalallahu minna wa minka” (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)” Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah صل اللة عليه وسلم, keluarga, dan shahabat-shahabat beliau صل اللة عليه وسلم (Al Fikrah)
-Ahmad Yusuf-

Moga Bisa Di Ilmu Di Amalkan dan Di Dakwahkan... Insya Allah
--------------------
Hikmah Salat Berjamaah

Oleh : Ustadz Syaibani Mujiono

(Koran Sindo, Selasa 1 September 2009 Hal. 16 kolom Seputar Ramadan)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Letak urgensi dan pentingnya salat berjamaah ini bahwa agama kita ini mengajarkan umatnya untuk senantiasa berjamaah. Rasulullah SAW bersaba, hendaknya kalian bersama jamaah. Allah berfirman, tangan Allah di atas tangan mereka, selalu di atas jamaah. Meskipun jamaah secara umum.

Tapi, pada intinya mengajarkan berjamaah. Apalagi simbol-simbol keberjamahaan itu sudah diimplementasikan dalam syariat-syariat Islam. Salah satunya tentang salat berjamaah ini. Banyak hikmah yang bisa kita petik dari salat berjamaah ini, tapi kita pahami dulu bagaimana pentingnya salat berjamaah.
Pertama, salat berjamaah itu lebih banyak pahalanya dan lebih suci yang tidak didapatkan kecuali orang-orang yang berjamaah. Misalnya, orang yang berjamaah itu mandapatkan 27 derajat dibanding orang yang salat sendirian. Kalau kita mau hitung matematika, sama beban kerjanya, tetapi mendapatkan upah yang lebih tinggi.
Kedua, Rasulullah mengatakan, salatnya dua orang lebih suci dari dua orang, salatnya tiga orang lebih suci dari dua orang begitu seterusnya.
Ketiga, orang yang salat berjamaah itu mendapatkan pahala langkah-langkah itu. Rasulullah menyatakan, tidak seorang berwudu secara baik kemudian dia keluar dari rumahnya kecuali salat, maka tidaklah dia melangkah satu langkah kecuali Allah mengangkat satu derajat dan menghapuskan satu kesalahannya. Dan itu akan berlangsung saat dia berangkat dan pulang.
Orang yang shalat sendiri tidak akan mendapatkan pahala ini. Bahkan, langkah-langkah ini akan dicatat dan dihadapkan kepada Allah. Pada zaman dahulu, oleh para sahabat dikatakan bahwa langkah-langkah kalian itu dicatat dihadapan Allah.
Jadi salat berjamaah ini sangat penting, apalagi ini merupakan syiar Islam yang sangat besar dan berlaku setiap hari. Banyak masjid yang kita dapatkan tidak makmur dengan salat berjamaah, maka kita rasakan umat Islam ini lemah.
Bahkan ada seorang Yahudi yang mengatakan, kami tidak akan pernah takut dengan umat Islam selamat shalat subuhnya belum sama dengan shalat Jum'atnya.
Para ulama menjelaskan, berdasarkan hadis Rasulullah SAW bahwa salat berjamaah itu hukumnya wajib bagi kaum laki-laki dan bagi kaum perempuan itu dibolehkan. Dalil yang digunakan para ulama untuk menjelaskan wajibnya salat jamaah ini adalah, pertama dahulu itu ada orang yang buta datang kepada Rasulullah. Dia mengatakan, ya Rasulullah, saya buta, rumah saya jauh dan saya tidak ada yang mengantarkan ke masjid. Apakah boleh saya salat di rumah. Rasulullah bertanya, apakah kamu mendengarkan adzan. Kalau begitu, kata Rasulullah, jawab panggilan adzan itu, Rasulullah.
Perbandingannya kata ulama adalah seandainya salat berjamaah itu tidak wajib maka tentu orang itu diizinkan untuk tidak datang ke mesjid.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Transkrip ceramah “Oase Ramadhan” Radio Celebes 90.9 FM
Fadhilah Amaliah Ramadhan


PUASA RAMADHAN
FADHILAH PUASA
1. Dijauhkan dari api neraka
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول:

من صام يوما في سبيل الله بعد الله وجهه عن النار سبعين خريفا.



Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang berpuasa sehari fii sabilillah, Allah akan menjauhkan dirinya dari api nereka tujuh puluh tahun.” (HR. Bukhari-Muslim)

Fii sabilillah berarti karena mengharap ganjaran pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Khariif berarti musim gugur yang waktunya antara 21 September – 21 Desember. Karena musim gugur adalah penutup putaran musim dan tahun, satu musim gugur biasa digunakan sebagai istilah untuk satu tahun.

2. Ganjaran pahala tak terbilang dan akan menghadap kepada Allah dalam keadaan ridha.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كل عمل ابن آدم يضاعف، الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف. قال الله عز و جل: إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به، يدع شهوته وطعامه من أجلي. للصائم فرحتان فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه. ولخلوف فيه أطيب عند الله من ريح المسك.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Setiap amal manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan dinilai sepuluh hingga tujuh ratus kebaikan. Allah ’azza wajalla berfirman, ’Kecuali puasa, dia adalah milik-Ku dan Aku yang memberi ganjaran (orang yang) berpuasa. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’ Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Rabbnya. Sungguh bau mulutnya lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Puasa adalah milik Allah sebab hanya Dia yang mengetahui kualitasnya dan hanya Dia yang mengetahui ganjaran pahala yang layak buat amalan puasa.

3. Masuk surga lewat pintu khusus

عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: : إن في الجنة بابا يقال له الريان. يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل معهم أحد غيرهم. يقال: أين الصائمون؟ فيدخلون منه. فإذا دخل آخرهم أغلق فلم يدخل منه أحد.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya di surga terdapat satu pintu yang disebut Ar Rayyaan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat (nanti), yang tidak seorang pun selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Dikatakan, ‘Dimana orang-orang yang berpuasa?’ Lantas mereka masuk lewat pintu itu. Bila orang yang terakhir telah masuk, pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorang pun yang masuk.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rayy dalam bahasa Arab berarti kenyang (air). Dari makna bahasa sebutan pintu surga tersebut, sebagian ulama memahami adanya minuman bagi orang-orang yang lewat pintu tersebut.

4. Ampunan terhadap dosa yang telah lalu

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan karena mengharap ganjaran pahala (dari Allah), diampunkan baginya dosanya yang tenlah lalu.” (HR. Bukhari-Muslim)

5. Pemberi syafaat di hari kiamat

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الصيام والقرآن

يشفعان للعبد يوم القيامة. يقول الصيام: أي رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه.

يقول القرآن: منعته النوم بالليل فشفعني فيه. فيُشفعان.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa dan (bacaan) Al-Qur’an memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Rabb, sesungguhnya aku telah mencegahnya makan dan syahwat pada siang hari. Maka izinkanlah aku memberinya syafaat.’ (Bacaan) Al-Qur’an berkata, ‘Aku telah mencegahnya tidur malam. Maka izinkanlah aku memberinya syafaat.” (Shahiul Jami’is Shaghir wa Ziyadatuh)

PERKARA-PERKARA YANG MUBAH DALAM PUASA

* Menyiram kepala dengan air untuk mendinginkan tubuh atau meringankan rasa haus (HR. Abu Dawud)
* Masuk waktu subuh dalam keadaan junub (HR. Bukhari-Muslim)
* Berkumur dan membasuh hidung ketika berwudhu’ (HR. Abu Dawud)
* Mencium istri bagi yang tidak khawatir akan batal puasa (HR. Bukhari-Muslim)
* Bercelak (atsar Anas, Abu Dawud)
* Mencicipi makanan, selama tidak sampai ke tenggorokan (atsar Ibnu Abbas, Bukhari ta’liqan)


PEMBATAL-PEMBATAL PUASA

* Riddah
* Makan dan minum dengan sengaja
* Jima’
* Keluarnya mani dengan sengaja
* Keluarnya darah haid atau nifas
* Obat atau suntikan yang dapat mengganti fungsi makanan, seperti transfusi darah
* Muntah dengan sengaja
* Keluarnya darah dalam jumlah banyak secara sengaja: hijamah, donor darah, dll


BUKAN PEMBATAL PUASA

* Celak mata
* Obat tetes mata atau hidung atau telinga
* Parfum dan wangi-wangian
* Suntikan pengobatan
* Keluarnya madzi
* Debu atau lalat terbang yang masuk ke tenggorokan dan tertelan
* Obat hirup
* Obat kumur
* Obat pada luka
* Menelan air liur atau dahak biasa
* Keluar sedikit darah, seperti luka atau pemeriksaan golongan darah
* Pembatal-pembatal puasa yang dilakukan tanpa sengaja


MAKAN SAHUR
FADHILAH MAKAN SAHUR

* Mendapatkan berkah

عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تسحروا فإن في السحور بركة.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada makan sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari-Muslim)

* Mempertegas identitas keislaman

عن عمرو بن العاص رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر.


Dari Amr bin Al Ash radhiyallahu ’anhu berkada, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pembeda antara puasa kita (umat Islam) dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.”

Allah subhanahu wata’ala dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ

فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاء. فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sahur itu makanan yang berberkah. Lantaran itu janganlah kalian meninggalkannya walaupun seorang dari kalian hanya meminum seteguk air. Sebab Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.”

MAKAN SAHUR YANG UTAMA
1. Makan sahur dengan korma (HR. Abu Dawud)
2. Menunda makan sahur hingga mendekati waktu shalat subuh (HR. Ahmad)


IFTHAR (BERBUKA)
IFTHAR YANG UTAMA
3. Berbuka dengan kurma segar (basah), atau kurma kering, atau air putih
4. Menyegerakan berbuka puasa bila telah masuk waktu shalat maghrib (HR. Ahmad)
5. Berdoa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَ ثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat leher dan telah ditetapkan pahala insya Allah. (HR. Abu Dawud)

SHALAT TARAWIH
FADHILAH SHALAT TARAWIH
6. Shalat sunat yang paling utama

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah: Muharram. Dan shalat paling utama setelah yang wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

7. Ampunan terhadap dosa yang telah lalu
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرغب في قيام رمضان من غير
أن يأمرهم فيه بعزيمة، فيقول: من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, ”Adalah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menganjurkan (untuk melakukan) qiyam Ramadhan. Tapi beliau tidak mewajibkannya atas kaum muslimin. Beliau bersabda, ’Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadhan dengan dasar iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (HR. Bukhari-Muslim)

8. Peluang masuk ke dalam golongan shiddiqin dan syuhada
عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ الْجُهَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ مِنْ قُضَاعَةَ فَقَالَ:
يَارَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللهِ وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَصُمْتُ الشَّهْرَ وَقُمْتُ رَمَضَانَ وَآتَيْتُ الزَّكَاةَ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم:
مَنْ مَاتَ عَلىَ هَذَا كَانَ مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ.


Dari Amr bin Murrah Al Juhani radhiyallahu ’anhu berkata, “Seorang laki-laki dari Qudha’ah datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda jika saya bersaksi tiada Tuhan (yang hak disembah) selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, saya shalat lima kali (sehari), saya berpuasa pada bulan Ramadhan, saya melakukan qiyam Ramadhan, dan saya menunaikan zakat?’ Maka Nabi bersabda, ‘Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan dia melaksanakan hal-hal tersebut (di atas), dia termasuk golongan shiddiqin dan para syuhada” (Shahihut Targhib wat Tarhib)

MEMBACA AL-QUR’AN
FADHILAH MEMBACA AL-QUR’AN
9. Sebaik-baik manusia
عن سعد بن عيبدة عن أبي عبد الرحمن السلمي عن عثمان بن عفان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خيركم من تعلم القرآن وعلمه. قال: وأقرأ أبو عبد الرحمن في إمرة عثمان حتى كان الحجاج.
قال: وذاك الذي أقعدني مقعدي هذا

Dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As Sulami dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang berlajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Abu Abdirrahman mengajarkan Al-Qur’an sejak masa Khalifah Utsman hingga era Hajjaj. Katanya, “Hadits itulah yang membuatku duduk melakukan ini (mengajarkan Al-Qur’an).” (HR. Bukhari)

10. Mencontoh kebiasaan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam di bulan Ramadhan
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس. وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل. وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن.
فلرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau sangat dermawan di bulan Ramadhan dimana Jibril datang menemuinya. Jibril datang setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mudarasah Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah lebih banyak memberi daripada angin yang bertiup.” (HR. Bukhari-Muslim)

DOA
عن أنس ين مالك رضي الله عنه مرقوعا: ثلاث دعوات لا ترد: دعوة الوالد لولده ودعوة الصائم ودعوة المسافر.


Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga doa yang tidak ditolak: doa bapak untuk anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa musafir.” (Shahihul Jami’is Shaghir wa Ziyadatuh)

SHADAQAH

عن زيد بن خالد الجهني رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

من فطر صائما كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيء


Dari Zaid bin Khalid Al Juhani radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, baginya pahala seperti pahala orang yang puasa. Hanya saja, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang puasa itu.” (Shahihut Targhib wat Tarhib)

MENJAGA DIRI DARI SEGALA BENTUK MAKSIAT DAN DOSA

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah sama sekali tidak akan menilai perbuatannya meninggalkan makan dan minum. (HR. Bukhari)

PENATARAN SEPUTAR RAMADHAN:
“MENYIBAK TABIR KEAGUNGAN RAMADHAN”
Forum Studi Islam Raudhatul ’Ilmi UNM
Masjid Raya Makassar, 23 Agustus 2008

Ramadan Lebih Bermakna

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Marhaban ya Ramadan, tidak hanya formalitas belaka, tapi harus benar-benar kita buktikan dalam hari-hari melewati bulan suci ini.
Tentu di sini saya perlu mengingatkan salah satu hadis Rasulullah SAW dimana ketika Nabi sedang berdiri di atas mimbarnya, tiba-tiba Malaikat Jibril memerintahkan Nabi mengucapkan kata amin. Itu berulang sampai tiga kali, sampai kemudian sahabatnya bertanya kepada Nabi. Apa sebabnya Nabi mengucapkan amin tiga kali sampai sahabat tidak mengetahui apa sebabnya. Lalu Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa tadi baru saja Malaikat Jibril meminta saya mengaminkan doanya. Doa yang diaminkan Nabi Muhammad yang diucapkan Jibril itu, di antaranya celakalah orang yang masih mendapatkan kedua orang tuanya masih hidup lalu ketika sampai orangtuanya meninggal dunia dia tidak sempat berbakti kepadanya.
Lalu diaminkan Rasulullah. Doa terakhir yang disebutkan dalam hadis itu adalah celakalah orang yang datang pada bulan suci Ramadan dan Ramadan itu pergi meninggalkan dia tanpa ada satu pun dosanya yang diampuni Allah SWT. Doa ini pun diaminkan Rasulullah SAW.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Transkrip ceramah “Oase Ramadhan” Radio Celebes 90.9 FM

Imam Besar Al Aqsa Haramkan Aksi Noordin

BANDAR LAMPUNG (LampostOnline): Imam besar Masjid Al Aqsha, Palestina, Dr Syeikh Mohammad Mahmud Shiyam, menegaskan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan jihad agama di Indonesia, diharamkan dalam Islam dan tidak dianjurkan.
"Sama sekali tidak diperbolehkan membuat tindakan teror di suatu negara dengan mayoritas penduduknya muslim, seperti di Indonesia, karena hanya akan membuat kaum muslim semakin menderita," kata dia, dalam silaturahmi dengan jamaah masjid Al Wasyi’i Universitas Lampung (Unila), di Bandarlampung, Minggu (23-8) malam.

Pria yang juga Rektor Universitas Gaza, Palestina itu juga mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan yang mengarah kepada terorisme seperti dua sisi mata uang. "Berbicara mengenai terorisme itu seperti membicarakan dua sisi mata uang, ada yang baik dan ada yang buruk," kata dia.

Menurut Syeikh lebih lanjut, teror yang dilakukan di Indonesia termasuk tindakan teroris yang salah, dan salah menerjemahkan arti jihad. Dia menambahkan, teror tidak boleh dilakukan pada negara mayoritas muslim, karena akan membuat kaum muslim di negara itu menjadi menderita, dan hidup dalam ketakutan.

Dia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, yang antara lain isinya menegaskan tentang diwajibkan bagi umat muslim, untuk menjaga orang asing yang datang ke negaranya dengan tanpa tujuan berperang. "Mereka datang ke Indonesia untuk meminta perlindungan, jadi Anda sebagai muslim wajib melindunginya," kata dia.

Secara keseluruhan, dia mengatakan apa yang dilakukan Noordin M Top dan kawan-kawan, adalah bukan ajaran Islam, bahkan cenderung diharamkan. Hal itu disampaikan Syeikh, dalam acara silaturahminya dengan jamaah Masjid Al Wasi’i Universitas Lampung, hasil kerjasama antara Universitas Lampung dengan Jamaah Muslimin (Hizbullah) Lampung.

Acara itu diawali dengan buka puasa bersama, yang dilanjutkan dengan Shalat Tarawih berjamaah, dengan Syeikh Mohammad Mahmud Shiyam, sebagai imam shalat Tarawih berjamaah. Usai shalat tarawih berjamaah, Syiekh menyempatkan diri untuk memberikan ceramah, kepada para jamaah yang hadir, dengan didampingi oleh Rektor Universitas Lampung, Sugeng P Harianto.

Hadir pula Imamul Muslimin, yang juga Pembina Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah, Natar, Lampung Selatan, H Muhyidin Hamidy.

Pada kesempatan itu panitia, yang dimotori civitas akademika Unila itu juga berhasil mengumpulkan dana spontanitas dari para jemaah sebesar Rp3,6 juta, yang akan disumbangkan kepada warga Palestina di jalur Gaza yang sedang menderita dan sangat membutuhkan bantuan.
Sumber: http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=10189
Hal-hal yang membatalkan pusa
Oleh : Ustaz Bahrun Nida
(Koran Sindo, Rabu 26 Agustus 2009 Hal. 16 kolom Seputar Ramadan)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hal yang membatalkan puasa itu terinventarisasi dengan baik sebagaimana yang telah disepakati para ulama. Secara singkat apa yang membatalkan puasa adalah jima atau melakukan hubungan suami istri pada siang hari.

Ketika itu dilakukan, puasa batal. Karena itu, harus diganti dengan kafarah, yang mana hukumannya itu dia membebaskan seorang budak, sekarang ini tidak ada budak. Kedua adalah di berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika dia tidak mampu, dia memberi makan 60 orang miskin. Jadi segala hal yang termasuk pra atau mukadimahnya itu sudah termasuk memakruhkan puasa.
Selanjutnya adalah onani atau mengeluarkan air mani secara sengaja juga termasuk kategori yang membatalkan puasa. Kalau itu terjadi, hukumannya hanya mengganti puasa pada hari-hari yang lain. Yang dimaksud dengan onani adalah yang berada dalam alam kesadaran kita. Adapun ketika seseorang mimpi basah, itu tidak membatalkan kualitas puasanya. Tentunya wajib mandi, tapi orang itu bisa memundurkan waktu mandinya sampai tiba waktu subuh.
Hal lain adalah mengenai donor darah, terpaksa mendonor darah, meski pada sisi lainnya mendonor darah itu menolong orang, tetapi tetap membatalkan puasa. Batalnya puasa tersebut Insya Allah tidak berdosa karena hal tersebut dilakukan untuk menolong orang lain.
Berikutnya yang tentu saja merupakan poin yang sudah diketahui secara umum adalah makan dan minum secara sengaja. Tapi, makan dan minum karena lupa, lagi-lagi bonus. Nabi SAW bersabda, “barang siapa yang berpuasa dan dia lupa sehingga makan dan minum, hendaknya dia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah yang memberikan makan dan minum itu.” Kalaupun dia sudah menghabiskan satu piring kemudian ia ingat, itu pun bonus dari Allah.
Itulah yang harus dipahami bahwa Islam ini memberikan pembebanan kepada orang-orang yang sadar dan mampu memikul beban dari itu. Termasuk lupa atau tertidur.
Andaikan ada orang yang tidur dari subuh sampai sahur, puasanya itu sah. Pada dasarnya orang yang tertidur itu boleh, dia tidak termasuk hal-hal yang membatalkan puasa. Hanya sangat disayangkan jika pada bulan puasa ada orang secara sengaja berniat untuk tidur biar lupa makan dan minum.
Ada fenomena adanya permainan online yang banyak dimainkan saat ini, kalau permainan itu tidak menimbulkan syahwat seperti anak-anak main itu, tidak ada masalah. Tapi kalau gambar-gambar porno dan lain sebagainya ini masuk kategori ada kaitannya dengan onani atau menyaksikan sesuatu maka dapat memunculkan syahwatnya.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Transkrip ceramah “Oase Ramadhan” Radio Celebes 90.9 FM
Kelompok Orang Diberikan Keringanan Tak Berpuasa

Oleh : Ustaz Bahrun Nida Amin

(Koran Sindo, Jum'at 28 Agustus 2009 Hal. 11 kolom Seputar Ramadan)


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Agama kita ini mewajibkan puasa Ramadan yang merupakan salah satu rukun Islam itu dalam dua waktu pelaksanaannya. Pertama adalah yang dilakukan tepat pada waktunya seperti bulan Ramadan atau ada'. Kedua yang dlilakukan diluar waktunya disebut qada' atau melakukan penggantian diluar waktunya.

Ada kelompok yang ketiga yang mana mereka tidak bisa melaksanakan puasa dalam dua momen itu, siapa siapakah mereka itu seperti orang yang lanjut usia, kakek-kakek atau nenek-nenek, tidak ada yang mereka pilih dalam dua waktu itu karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk berpuasa.
Selain itu, orang yang sakit, bagi orang yang sakit yang bisa dikatakan tidak diharapkan kesembuhan lagi, seperti orang yang menderita penyakit komplikasi yang sudah kronis.
Nah sekarang, apa yang mesti dilakukan orang-orang tersebut. Kelompok ini diberi dispensasi oleh agama kita adalah mengganti puasa tersebut dengan cara memberi makan kepada orang miskin setiap hari itu setangah sak itu dua genggam. Maka itulah yang wajib mereka lakukan berupa makanan pokok.
Bukan arti boleh tidak berpuasa, tapi memang sudah tidak bisa lagi berpuasa. Maka diberikan toleransi dengan memberikan makanan pokok. Tapi pada zaman kita sekarang ini yang sudah semakin berkembang interaksi sosial, itu sebahagian ulama menetapkan bahwa boleh dengan makanan yang sudah jadi.
Katakanlah seperti nasi dos, jadi otomatis tidak perlu lagi diukur setengah sak. Untuk jumlahnya, boleh dia memberikan makanan itu kepada satu orang setiap hari. Boleh juga dia diberikan kepada beberapa orang sesuai jumlah hari yang ditetapkan.
Misalnya ada satu orang miskin tetangganya, boleh dia berikan setiap hari makanan kepadanya. Boleh juga, katakanlah puasa yang ditinggalkan itu 30 hari, boleh juga dia memberikan makanan atau nasi dos kepada 30 orang miskin.
Namun, adalah memberikan setiap hari. Hikmahnya adalah agar orang yang miskin ini berkesinambungan jaminannya selama bulan Ramadan. Ditakutkan diberikan satu kali itu, berikutnya sudah tidak ada lagi.
Adapun orang yang berpuasa karena suatu halangan atau tidak permanen, seperti orang yang bepergian, orang yang sakit dimana sakitnya itu diharapkan kesembuhannya, orang hamil, menyusui, orang haid, nifas.
Orang-orang seperti itu yang wajib mereka lakukan adalah mengganti puasanya dimana mereka mengganti sesuai hari-hari yang mereka tinggalkan. Jelas dalam Al-Qur'an, siapa yang sakit dan dalam perjalanan maka hendaknya ia mengganti pada hari-hari yang lain.
Bagi orang yang dalam perjalanan dan sakit, tetapi tetap mampu melaksanakan puasa maka
puasanya tetap sah.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Transkrip ceramah “Oase Ramadhan” Radio Celebes 90.9 FM
Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 29 Agustus 2009 )
Adab I'tikaf dan Keutamaannya

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“Bahwa Rasulullah ‘Alaihish sholaatu wassalam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan”. (HR. Bukhori no. 2025 dan Muslim no. 1171)

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha :

“Sesungguhnya Rasulullah ‘Alaihish sholaatu wassalam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hingga Allah mewafatkan beliau ‘Alaihish sholaatu wassalam. Kemudian istri-istri Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam beri'tikaf sepeninggal beliau ‘Alaihish sholaatu wassalam”. (HR. Bukhori no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Bahwasanya Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam beri'tikaf selama sepuluh hari disetiap bulan Ramadhan. Pada tahun Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam wafat, beliau ‘Alaihish sholaatu wassalam beri'tikaf selama dua puluh hari”. (HR. Bukhori no. 2044)

Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Sholih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas :

Definisi i'tikaf ialah tinggal didalam masjid dalam rangka melakukan amalan-amalan ketaatan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Amalan i'tikaf ini disyari'atkan untuk dilakukan pada sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Karena sesungguhnya Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir, dan beliau juga pernah beri'tikaf selama sepuluh hari dipertengahan bulan Ramadhan, ini semua beliau ‘Alaihish sholaatu wassalam lakukan untuk mencari malam Lailatul Qodr. Dan kemudian sampai wahyu kepada beliau: “Sesungguhnya malam Lailatul Qodr ada disepuluh malam terakhir” , maka dengan sebab itulah Rasulullaah ‘Alaihish sholaatu wassalam menjadikan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sebagai momentum untuk beri'tikaf.

Maka dengan demikian telah kita ketahui bahwa tidak disyari'atkan melakukan i'tikaf diluar bulan Ramadhan. Namun ada dari sebagian Ulama yang berpendapat bahwa apabila seseorang pergi menuju masjid, hendaknya dia berniat untuk melakukan i'tikaf yakni tinggal didalamnya dengan kadar waktu tertentu. Ketahuilah, bahwa pernyataan tersebut tidaklah dibangun diatas dalil, karena sesungguhnya Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam tidaklah mensyari'atkan bagi ummatnya hal tersebut, t idak dengan pernyataannya dan tidak pula dengan perbuatannya. Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam tidak pernah menyatakan kepada ummatnya; “Apabila kalian masuk ke dalam masjid, maka niatkanlah untuk beri'tikaf diwaktu kapan saja” , dan juga tidaklah kita dapati dari perbuatan beliau yang berkenaan dengan amalan tersebut diatas. Sesungguhnya Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan untuk mencari malam Lailatul Qodr.

Hendaknya bagi orang yang beri'tikaf menyibukkan diri dengan melakukan amalan-amalan ketaatan, apakah dalam bentuk sholat, membaca Al Qur'an, berdzikir atau amalan-amalan yang semisalnya selain menuntut ilmu agama. Para Ulama berkata: “Tidak semestinya bagi orang yang beri'tikaf menyibukkan diri dengan menelaah ilmu agama, akan tetapi hendaknya dia melakukan ibadah-ibadah yang khusus, karena sesungguhnya pada waktu itu (i'tikaf) dikhususkan baginya beribadah dengan amalan-amalan ibadah yang khusus.

Dan tidak boleh bagi orang yang beri'tikaf keluar dari masjid kecuali jika memang diperlukan. Seperti keperluan makan dan minum, maka dia keluar untuk makan dan minum, atau keluar karena sesuatu yang dibutuhkan; seperti ingin mandi junub dan semisalnya. Atau keluar karena ingin sholat jum'at, berhubung masjid (di Indonesia dikenal dengan istilah Musholla, -red) yang dia tinggal padanya bukan termasuk masjid Jami' (masjid Jami' yakni masjid yang terdapat padanya pelaksanaan sholat jum'at, –red). Yang terpenting dia tidak keluar dari masjid kecuali dengan sebab dan alasan yang syar'i.

Kemudian yang perlu diperhatikan juga bagi orang yang beri'tikaf ialah apabila ada seseorang datang kepadanya dan ingin menyibukkan dirinya dengan pembicaraan yang tidak mengandung faidah., maka hendaknya dia katakan: “Wahai saudaraku, aku sedang beri'tikaf.. sebaiknya engkau menerangkan kepadaku tentang amalan-amalan ketaatan atau jika tidak, hendaknya engkau pergi menjauh dariku”. Sesungguhnya Allah tidak malu atas kebenaran.

Adapun berbincang-bincang dengan perbincangan yang ringan, maka yang demikian ini tidak mengapa. Karena sesungguhnya Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam pernah minta bertemu dengan istri-istrinya, dan Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam dalam keadaan sebagai orang yang sedang beri'tikaf, kemudian beliau ‘Alaihish sholaatu wassalam berbincang-bincang dengan istri-istrinya dan sebaliknya istri-istrinya juga berbincang-bincang dengan Nabi ‘Alaihish sholaatu wassalam. Wallahul Muwaffiq

Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-'Utsaimin Rahimahullah
Syarh Riyadhus Sholihin - Kitabul I'tikaf
Penterjemah : Fikri Abul Hassan
Tahukah Kamu Apa Malam Kemuliaan Itu ?

Allah Ta'ala Berfirman dalam surat Al Qodr :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? . Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar”.

Berkata Syaikh Abdurrahman As Sa'di Rahimahullah:

Allah Ta'ala telah memberitakan kepada kita dengan jelas mengenai keutamaan Al-Qur'an dan betapa tinggi kemuliaan yang ada padanya (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan) . Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam ayat lain “ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam yang diberkahi ”. Allah Ta'ala memulai dengan menurunkan Al Qur'an di bulan Ramadhan pada malam Lailatul Qodr. Kasih sayang Allah dan rahmatNya yang Maha luas bagi hamba-hambaNya pada malam yang mulia itu. Tidaklah Allah memuliakan hamba-hambaNya pada malam itu, kecuali mereka dalam keadaan bersyukur.

Dinamakan lailatul qodr (malam kemuliaan), karena betapa besar kemuliaan yang ada padanya dan keutamaan yang Allah berikan pada malam itu. Karena sesungguhnya pada malam kemuliaan itu, Allah menetapkan taqdir ajal-ajal (kematian), rizqi-rizqi dan ketentuan-ketentuan lain yang telah ditetapkan dalam setahun.

Allah Ta'ala memuliakan urusan dimalam itu dan mengagungkannya. ( Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? ) yakni urusan dimalam itu sungguh mulia dan mempunyai kedudukan yang sangat agung. ( Lailatul Qodr itu lebih baik daripada seribu bulan ) pada malam kemuliaan itu keutamaannya sepadan dengan kadar waktu selama seribu bulan, yakni amalan yang dilakukan pada malam itu sungguh lebih baik dari pada amalan yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak terdapat padanya malam lailatul qodr. Fenomena yang demikian ini membuat heran dan tercengang orang-orang yang berakal, ketika Allah Tabaroka wa Ta'ala mengkaruniakan atas ummat ini yang sangat lemah kemampuannya dan juga yang mempunyai kekuatan; dengan anugerah malam lailatul qodr. Yaitu jika mereka beramal sholih pada malam yang mulia itu bertambah semisal seribu bulan mereka mengamalkannya. Dan pada malam itu, umur seseorang juga bertambah panjang selama 80 tahun lebih (sekadar seribu bulan).

( Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-nya ) yakni dimalam yang mulia itu malaikat-malaikat Allah turun dengan jumlah yang lebih banyak. ( Untuk mengatur segala urusan ) yakni keselamatan dari segala malapetaka dan kerusakan, maka dimalam itu sungguh melimpah kebaikan. ( Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar ) yakni malam itu dimulai ketika persis tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar.

Banyak hadits-hadits mutawatir (akurat) yang memberitakan tentang keutamaan lailatul qodr. Malam yang mulia itu terjadi pada sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil dibulan itu. Malam qodr itu akan tetap ada dan senantiasa muncul setiap tahun, hingga kelak datangnya hari kiamat. Dengan sebab inilah Rasulullah ‘Alaihish sholaatu wassalam melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, dalam rangka memperbanyak ibadah dan penuh harapan mendapatkan malam lailatul qodr. Wallahu a'lam.

Syaikh Abdurrahman As Sa'di Rahimahullaah
Taysirul Kariimir Rahman Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan Hal. 931
Penterjemah : Fikri Abul Hassan
Sunnah Berucap Baik & Menampakkan Wajah Berseri-seri Ketika Berjumpa

Berkata Al Imam An Nawawi Rahimahullah dalam kitab beliau Riyadhus Sholihin:

Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (Al Hijr: 88)

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (Al Imran: 159)

Dari ‘Adi Bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu, Berkata Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam :

“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan bershodaqoh sebiji kurma. Barangsiapa yang tidak punya sebiji kurma, maka hendaklah bershodaqoh dengan perkataan yang baik”. (HR. Bukhori no.1417 dan Muslim no.1016)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam bersabda :

“Dan perkataan yang baik termasuk shodaqoh”. (HR. Bukhori no. 2707 dan Muslim no. 1009)

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, Berkata Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam :

“Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan sekecil apapun, walaupun salah seorang dari kalian bertemu saudaranya hanya dengan wajah yang berseri-seri”. (HR. Muslim no. 2626)

Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Sholih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan ayat dan hadits diatas (Syarh).

Apabila seseorang berjumpa dengan saudaranya sesama muslim, maka hendaknya dia menampakkan kegembiraan dengan wajah yang berseri-seri dan berkata dengan tutur kata yang baik. Karena sesungguhnya perbuatan yang demikian ini merupakan akhlaq Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Dan sikap seperti ini tidaklah menurunkan kewibawaan seseorang, melainkan akan mengangkat derajatnya dan mendapatkan balasan dan pahala dari sisi Allah ‘azza wa jalla.

Seorang muslim hendaknya menampakkan wajah yang berseri-seri ketika berjumpa dengan saudaranya dan berkata dengan tutur kata yang baik, demi memperoleh pahala, loyalitas (kecintaan) dan kasih sayang sesama saudaranya. Karena jika kaum muslimin membiasakan diri dengan akhlaq seperti ini, maka akan dapat mencegah mereka dari sifat sombong dan mendidik kepribadiannya untuk tidak berbangga-bangga diri atas saudaranya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (Al Hijr: 88)

Berendah hati dalam ayat diatas yaitu bersikap lembut dan tawadhu’ terhadap kaum mu’minin (bukan berendah diri: minder, -red), karena sesungguhnya setiap mu’min pantas diperlakukan demikian. Adapun sikap terhadap orang-orang kafir, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala membimbing kita dengan firman-Nya :

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafiq serta bersikap keraslah terhadap mereka. Dan tempat mereka adalah neraka jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At-Tawbah: 73)

Pada asalnya hanya kaum mu’minin saja yang berhak diberikan rasa simpatik dengan menampakkan kegembiraan dan wajah yang berseri-seri. Namun jika ada dari orang kafir yang diharapkan keislamannya, maka hendaknya kita bergaul dengan mereka juga menampakkan kegembiraan dan wajah yang berseri-seri. Karena dengan sikap seperti itu, kita dapat mengambil manfaat ketika berjumpa dengan mereka, yaitu dalam rangka meluluhkan hati mereka, sehingga dengan mudah mereka mau merujuk kepada Islam. Akan tetapi jika kita bersikap tawadhu’ dan menunjukkan rasa simpatik kepada orang kafir itu, dan ternyata justru membuat dia besar diri dan semakin bertambah kesombongannya terhadap kaum mu’minin, maka dalam konteks ini kita dilarang untuk menunjukkan sikap ramah kepadanya.

Ketahuilah, dengan wajah yang berseri-seri sahabatmu akan merasa gembira gegap gempita dan penuh semangat ketika berjumpa. Dia akan membedakan orang-orang yang pernah berjumpa dengannya yakni antara orang-orang yang bermuka masam, dengan orang-orang yang wajahnya berseri-seri. Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam menasehati Abu Dzar Al Ghifari Rodhiyallahu ‘anhu:

“Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan sekecil apapun, walaupun salah seorang dari kalian bertemu saudaranya hanya dengan wajah yang berseri-seri”. (HR. Muslim no. 2626)

Menampakkan wajah yang berseri-seri memiliki nilai kebaikan, karena dengan demikian dapat membuat saudaramu senang dan menjadikan hatinya lapang. Kemudian jika sikap ini digandengkan dengan tutur kata yang baik, maka akan menjadi dua kebaikan yang saling melengkapi. Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam bersabda :

“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun dengan bershodaqoh sebiji kurma..”

Hendaknya kalian jadikan pelindung; antara kalian dengan api neraka yakni dengan bershodaqoh sebiji kurma. Karena amalan shodaqoh akan melindungi kalian dari api neraka, tentunya jika Allah menerima shodaqoh kalian. Namun apabila kalian tidak memiliki sebiji kurma, maka Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam memberikan alternatif lain yang juga dapat melindungi kalian dari api neraka yakni berupa perkataan yang baik. Seperti kalian bertanya tentang keadaan sahabat kalian “kayfa anta?”, “kayfa haluka?” (bagaimana kabarmu?), “kayfa ikhwanuka?” (bagaimana kabar saudara-saudaramu?), “kayfa ahluka?” (bagaimana kabar keluargamu?) dan semisalnya. Dimana sikap seperti ini dapat menjadi sebab gembiranya sahabat kalian dan melapangkan hatinya. Ketahuilah, bahwa semua perkataan yang baik termasuk shodaqoh, dan Allah akan memberikan ganjaran serta pahala bagi siapa yang mengamalkannya. Sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam :

“Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik”

Dan Nabi ‘Alaihish sholatu wassalam juga bersabda :

“Kaum mu’minin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya”

Syarh Riyadhus Sholihin hal. 581-582
Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-‘Utsaymin Rahimahullah
Penterjemah: Fikri Abul Hassan



Pernyataan Sikap Wahdah Islamiyah terhadap Peristiwa Peledakan di Mega Kuningan Jakarta

PERNYATAAN SIKAP

NO. K.282/IL/DPP-WI/VII/1430

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه وبعد،

Hari ini kita semua bersedih atas peristiwa peledakan di kawasan Mega Kuningan Jakarta (Hotel JW Marriot Dan Hotel Ritz Carlton) yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.

Menyikapi peristiwa tersebut dan sekaligus memberikan arahan pada umat, maka Wahdah Islamiyah memandang perlu mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut :

1. Mengecam sekeras-kerasnya peledakan ini, siapapun pelaku dan apapun motifnya, karena tidak sesuai dengan nilai dan manhaj Islam yang benar serta nilai-nilai kemanusiaan, juga merusak tatanan kehidupan dan sendi-sendi keamanan negeri yang sudah kondusif.
2. Meminta kepada semua pihak untuk tidak terprovokasi dan mengarahkan tudingannya kepada umat Islam atau mengaitkan peristiwa ini dengan komponen terbesar bangsa ini yaitu umat Islam.
3. Mendesak pemerintah agar dapat mengungkap kasus ini dengan sebaik-baiknya secara profesional dan proporsional.
4. Menghimbau kepada seluruh umat dan bangsa untuk tetap selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala., seraya memohon petunjuk dan pertolonganNya agar kita dapat segera memperoleh jalan keluar dari musibah ini.
5. Menyampaikan kepada korban dan keluarganya, semoga tetap tabah dan menjadikan peristiwa ini sebagai jalan menuju Allah azza wajalla dan menggapai ridha-Nya.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi bangsa dan negara tercinta ini.

Makassar, 24 Rajab 1430 H

17 Juli 2009 M



Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah

Ketua Umum, Sekretaris Jendral,



HM. Zaitun Rasmin, Lc Ir. HM. Qasim Saguni

Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 18 Juli 2009 )

< Sebelumnya Berikutnya >
[ Kembali ]

Radio Online Wahdah

Suara Wahdah 107,7 fm
Buku Tamu
Isi Buku Tamu
KOLOM RAMADHAN
Kumpulan Artikel
Cari Artikel

Rejab

27

Senin
1430 HIJRIAH
INFO MA'HAD 'ALY STIBA



Telah Terbit



Dapatkan Buku ini
Di Toko Buku Ukhuwah
Jln. A.Tonro Makassar
(0411) 850509,Email:
albashirah@gmail.com

Dapatkan Buku, Kaset dan MP3
HP:081355317131Email:
albashirah@gmail.com
Kewajiban Muslim Terhadap Waktu
(Al Balagh Edisi 14/Dzulhijjah 1428 H)

Di antara karakter waktu adalah ia akan terus berlalu. Ia tidak pernah menunggu siapapun. Rela atau tidak, ia terus berjalan tidak pernah mau menerima alasan ketelatan kita.

Karena itu, mereka yang sukses dunia akhirat adalah mereka yang mampu berpacu bersama waktu erenda hari-hari dengan amal shalih. Pembaca budiman, al-Balagh edisi kali ini mengajak kita semua menata waktu kita. Selamat menyimak.

Sedemikian pentingnya waktu sehingga dikatakan itulah kehidupan manusia yang hakiki. Maka, bagi manusia muslim ada kewajiban terhadap waktu yang selalu ia harus perhatikan. Seorang muslimtidak hanya skedar tahu dan mengerti harus mendarah daging akan pentingnya waktu itu lalu mengisinya dengan penuh kesungguhan.

Berikut beberapa kewajiban seorang muslim terhadap waktu:
Pertama, Menjaga Manfaat Waktu.
Kewajiban utama seorang muslim adalah menjaganya seperti ia menjaga hartanya bahkan lebih dari itu. Selanjutnya ia harus mengambil manfaat dari waktunya untuk kepentingan dunia dan akhiratnya, untuk diri dan ummatnya.

Para salaf adalah manusia yang paling mengerti tentang pentingnya waktu. Hasan al-Bashri pernah berkata, “Aku pernah bertemu dengan kaum yang perhatiannya terhadap waktu lebih besar daripada perhatiannya terhadap harta bendanya”. Karena itu para ulama selalu menjaga kelansungan waktunya terus menerus. Mereka takut waktu mereka berlalu tanpa faidah dan kerja keras. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata,”Sesungguhnya malam dan siang itu berbuat atas dirimu, maka beramallah pada keduanya”.

Di antara tanda kurangnya kualitas seseorang adalah menyia-nyiakan waktu. Para ulama’ kita mengatakan,”Waktu adalah pedang, bila kamu tidak memakainya dengan baik dan benar ia kan menebasmu”.

Karena itu, mereka selalu berusaha maju ke arah yang lebih baik, bagi mereka hari harus lebih baik dari hari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini. Berkata salahseorang salaf tentang ini, “siapa yang hari ini seperti keadaannya kemarin ia adalah orang tertipu dan barang siapa yang lebih buruk dari kemarin ia adalah orang tercela.

Kedua, Mengisi Kekosongan
Waktu luang adalah nikmat yang banyak dilupakan. Kebanyakan orang mengumpamakan waktu luang seperti binatang berbahaya yang harus segera dibunuh dengan senjata kesia-siaan. Rasulullah bersabda, “ Dua nikmat dari Allah yang kebanyakan manusia tertipu; yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”.

Waktu luang yang dimaksud dalam hadits di atas adalah saat kosong atau selesai dari berbagai aktifitas duniawi dan bisanya kebanyakan orang “membunuhnya” dengan kesia-siaan. Contoh sederhana adalah betapa banyak orang yang meghabiskan waktu luangnya dengan menghabiskannya di depan televisi atau orang yang ngobrol dengan obrolan yang tidak ada ujung pangkalnya.

Al-Mannawi memberi perumpamaan yang sangat indah tentang hal ini. Beliau mengatakan,”pedagang adalah orang yang bertanggung jawab terhadap barang dagangannya, sedangkan sehat dan peluang adalah modal utamanya yang merupakan penyebab keberuntugannya. Maka, siapa yang mengisi kekosongannya dengan amal kebaikan maka ia akan beruntung dan siapa yang mengisinya dengan mengikuti kemauan syaithan maka ia telah kehilangan modal”

Dalam hadits shahih disebutkan, Rasulullah bersabda, “Pergunakan lima perkara sebelum datang lima perkara...waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.”
Waktu luang pasti akan terisi, apakah dengan hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal yang sia-sia. Maka berbahagialah mereka yang mengisi waktu laungnya dengam hal-hal yang bermanfaat dan sungguh celaka mereka yang mengisinya dengan kesia-siaan. Salafusshalih berkata, “Perhatikan jiwamu, jika Anda tidak menyibukkannya dengan ketaatan, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kemaksiatan”.

Para salaf sangat benci kepada mereka yang menganggur, tidak mau bekerja beraktifitas baik yang memberi manfaat duniwi maupun ukhrawi. Salah satu sumber kejahatan adalah kelalaian. Sedangkan kelalaian ini salalh satu cabangnya adalah bangkitnya syahwat yang tidak terkendali. Bukankah keserongan Zulaikha pada Yusuf adalah karena didera oleh kesepian, tidak beraktifitas.

Ketiga, Berlomba-lomba Dalam Kebaikan.
Orang beriman mengerti betul pentingnya waktu. Karena itu, ia tidak akan menunda kewajibannya untuk dikerjakan hari esok. Seorang penyair pernah berkata,

“Tak akan kutunda pekerjaanku sampai esok. Sebab si pemalas adalah putra kata ‘besok’ ”

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan ummatnya membaca doa dimana beliau sendiri selalu membacanya:

“Allaahumma inii a’udzu bika minal hammi walhuzni, wa a’uudzu bika minal ‘ajzi walkasal”

Artinya, ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sedih dan duka cita, dan aku berlindung kpadamu dari lemah dan malas.

Allah ta’ala menerangkan kekeliruan ahlul kitab dan terhadap apa-apa yang diturunkan kepada mereka, Dia berfirman, “Kalau Allah menghendaki maka Ia akan menjadikan kalian ummat yang satu. Akan tetapi Ia menguji kalian dengan apa-apa yang diberikan pada kalian. Maka berlomba-lombalah kalaian mengerjakan kebaikan.”(Qs. Al-Maaidah).

Ketika Allah menyebutkan fasilitas yang diperoleh penduduk surga dan kenikmatan-kenikmatan yang mereka peroleh, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berlomba-lomba meraihnya. Allah mengatakan, “Tentang hal itu, hendaknya mereka saling berlomba-lomba” (Qs. Al-Muthaffifin: 2).

Allah ta’ala memuji sebaian RasulNya karena mereka tidak menunda-numda waktunya untuk mengerjakan kebaikan. Allah berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka selalu berdoa pada kami dengan harap-harap cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami”. (Qs. Al-Anbiyaa’ : 90)

Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk bersegera menyelesaikan pekerjaannya sebelum datang rintangan-rintangan yang menghalanginya, beliau bersabda, “Apakah kalian menunggu (untuk beramal) sampai datang kekayaan yang menyombongkan atau kemiskinan yang melalaikan, atau penyakit yang membinasakan, atau ketuaan yang melemahkan atau dajjal yang menipu...”(HR. Tirmidzi).

Keempat, Belajar Dari Perjalan Hari-hari
Wajib baru setiap Muslim untuk mengambil pelajaran dari hari-hari yang telah lalu. Pada perjalanan siang dan malam selalu ada sesuatu yang baru. Keduanya ‘menjadikan’ yang kecil jadi muda, yang muda jadi tua, yang tua binasa. Bahkan terkadang tidak melaui tahapan itu, betapa banyak manusia diusia yang masih belia sudah dijempaut oleh kematian. Maka, ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Perjalan waktu adalah saksi bisu tentang proses terjadinya alam semesta ini dari satu tahapan ketahapan yang lain, dari satu bentuk kepada bentuk yang lain. Maka, pernahkan Anda melihat pohon besar yang tinggi menjulang? Setelah kita merenung taulah kita bahwa pohon besar itu pada awalnya hanyalah sebuah tunas kecil yang lemah dan rapuh tapi dalam rentang watu yang panjang Allah menumbuhkannya. Begitu pula kejadian manusia. Mereka sebelumnya tidak ada sama sekali. Tapi Allah berkehendak mengadakan sesuatu yang sebelumnya sama sekal tidak ada.

Allah berfirman,yang artinya:

“Dia menggilirkan siang dan malam. Sungguh pada yang yang demikian itu ada ibrah bagi orang-orang yang berpikir”(QS. An-Nuur: 44)

Pembaca budiman, inilah beberapa kewajiban kita terhadap waktu. Waktu yang melingkupi hidup kita ini adalah salah satu indikator kesuksesan dan kegagalan kita di dunia dan akhirat. Namun sayang, banyak manusia yang gagal karena salah dalam menyikapi perjalanan waktunya. Wallaahul musta’an

Bencana-bencana Waktu
1. Lalai.
Ini adal;ah penyakit pikiran. Kejadian peristiwa selalu dilihat dari lahirnya saja. Kurang memperhatikan hakikat dibalik kejadian dan sebab utama kejadian. Contoh sederhana, bencana alam yang banyak terjadi selalu ditinjau dari aspek lahiriyah belaka, tidak pernah dilihat dari sisi lain, yaitu hukum kausalitas dalam ajaran Islam bahwa siapa saja yang melenceng dari syari’at Allah pasti ada resikonya yaitu musibah yang mengerikan.

2. Menunda Pekerjaan
Menunda pekerjaan adalah di antara musibah-musibah waktu. “Nanti”, “besok”, “sebentar”, “kapan-kapan” adalah di antara senjata pamungkas para penunda waktu.
Pernah ada seseoran yang meminta nasehat seorang lali-laki shalih dari Bani Abdil Qais, Ia hanya berkata dengan singkat, “waspadalah dari berkata “nanti”. Ada juga yang mengatakan bahwa kata “nanti” adalah salah satu dari tentara iblis.

3.Mencerca Zaman
Di antara penyakit orang lemah adalah senang mencerca zaman. Ini sebenarnya prilaku orang-orang malas. Ketidakberdayaannya dalam melawan kemalasan dibungkus dengan cercaan kepada zaman di mana ia berada. Padahal Rasulullah melarang kita mencela zaman, karena zaman dan kejadian yang terjadi di dalamnya itu adalah ketentuan dari AllaH
JANGAN MAKAN BANGKAI SAUDARAMU

Jangan Makan Bangkai Saudaramu PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator
Sabtu, 21 Maret 2009

Jangan Makan Bangkai Saudaramu



Allah Ta’ala telah memberi kita begitu banyak nikmat-Nya sampai sampai kita tidak dapat menghitung nikmat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Seandainya kalian mau menghitung-hitung nikmat yang Aku karuniakan kepada kalian niscaya kalian tidak akan mampu untuk menghitungnya (QS 14:34).

Kalau kita melihat didalam diri seorang manusia saja Allah memberikan nikmat yang begitu luar biasa yang tidak dapat dihargai dengan materi sebesar apapun. Diantara nikmat yang Allah berikan kepada kita yang tidak ternilai harganya adalah dilengkapinya pada bagian rongga mulut kita dengan Lidah yang membuat kita mampu berkomunikasi dengan baik, merasakan lezatnya makanan. Bukan hanya itu, dengan lidah seorang manusia dapat meraih keutamaan disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan berdzikir, membaca Alqur’an, berbicara yang santun dan baik, kemampuan beretorika dengan indah untuk mengajak seseorang kepada kebaikan serta keutamaan-keutamaan lainya.

Tidak sedikit juga diantara manusia yang binasa disebabkan karena lidahnya, bahkan menjerumuskannya dalam kebinasaan yang sangat besar, Nabi Sallallahu ‘alahi wassalam bersabda : “Yang paling banyak memasukan manusia kedalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan (HR. Thirmidzi), juga dalam hadits yang lain Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “Dan tidak ada yang menjerumuskan manusia kedalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka”.

Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah Ta’ala dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi Sallallahu ‘alahi wasallam, mampu menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khamar, bahkan mampu untuk sholat malam setiap harinya, senantiasa puasa senin kamis, namun ...... mereka tidak mampu menghindarkan lidahnya dari perbuatan ghibah, bahkan walaupun mereka telah tahu bahwa ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan perbuatan ghibah dengan penggambaran yang sangat hina dan menjijikan, dimana Allah menyamakan orang yang melakukan ghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya, Allah Subhanahu wa ta’la berfirman: ............ dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS 49 :12).

Allah Ta’ala telah menyamakan perbuatan ghibah dengan memakan daging saudara kita yang telah menjadi bangkai, yang mana hal ini sangat dibenci oleh manusia dan merupakan puncak kebencian. Memakan bangkai hewan yang busuk saja menjijikan, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim yang semakin menambah rasa jijik kita akan perbuatan ghibah, yaitu kisah yang diceritkan oleh sahabat Amru bin Ash radiallahu ‘anhu yang melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai), maka beliau berkata : “ Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim).

Begitu besar ancaman bagi pelaku ghibah yang disiapkan oleh Allah maka kita perlu mawas diri, terkadang kita tidak sadar atau tidak mengetahui bahwa apa yang sedang kita perbincangkan adalah ghibah. Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tahukah kalian apa itu ghibah? Sahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu, Sahabat bertanya kembali : “Bagaimana pendapaatmu jika itu benar adanya? Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang engkau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya (memfitnahnya)”. (HR. Muslim)

Abdullah bin Mas’ud radiallahu ‘anhu berkata : “Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang engkau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan”. Dari keterangan tersebut maka ulama kita menjelaskan yang dimaksud dengan ghibah adalah menceritakan sesuatu yang ada pada saudara kita yang mana hal tersebut tidak ia sukai, baik itu mengenai agamanya, ahlaknya, fisiknya, ataupun nasabnya. Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau dengan bibir atau mata dan yang lainnya, yang penting dapat dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain.

Berkaitan dengan bahaya ghibah , syariat juga memberikan penjelasan mengenai keadaan yang dipandang maslahat bagi pribadi maupun bagi ummat yang tidak bisa dicapai kecuali dengan jalan berghibah, yaitu :

Pertama, Pengaduan, maka dibolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada penguasa atau hakim dan yang selainnya yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya, Allah Ta’ala berfirman : ”Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali orang yang teraniaya”. (QS 4:148),

Kedua, Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku kemaksiatan kepada kebenaran, dan hendaknya tujuannya adalah sebagai sarana untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram,

Ketiga,. Meminta fatwa atas persolaan yang dihadapi dan sebaiknya tidak menyebut nama jika hal itu memungkinkan. Keempat, Memperingatkan kaum muslimin dari suatu bentuk kejelekan, dimana pelaku sudah terang-terangan melakukan kejelekan dan kefasikan, Aisyah radiallahu anha berkata : “Seseorang datang meminta izin kepada Rasulullah, maka Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “izinkanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang ditemngah kaumnya”. (HR. Bukhari Muslim). Namun diharamkan menyebutkan aib-aibnya yang lain yang tidak ia nampakkan kecuali ada sebab lain yang membolehkannya, 5). Untuk pengenalan, jika seseorang terkenal dengan sebuah laqob (gelaran) seperti si rabun, si pincang, si buta dan yang selainnya maka boleh untuk disebutkan, dan diharamkan menyebutkannya dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk mengenali mereka (tanpa harus menyebutkan kekurangannya) maka cara tersebut lebih baik.

Tidak dipungkiri sangat sedikit diantara kita yang bisa selamat dari penyakit ghibah ini, bahkan naudzubillah mungkin ada diantara kaum muslimin yang menjadikan kelakuan yang menjijikan ini menjadi komsumsi sehari-sehari yang didukung oleh berbagai sarana yang memudahkan hal tersebut. Olehnya itu tidak ada kata terlambat, kita harus bertaubat dan meninggal perbuatan keji tersebut, yang menjadi pertanyaan bagaimanakah cara bertobat bagi orang yang pernah menggibahi saudaranya?.



Ulama kita telah menjelaskan bagaimana cara bertobat bagi orang yang pernah menggibahi saudaranya. Berkata syaikh Utsaimin rahimahullah (ulama besar arab saudi) : “Orang yang pernah membicarakan saudaranya dan merendahkannya dihadapan orang lain, maka ada dua cara yang dapat ditempuh: 1). Bahwa orang yang mengghibah harus datang kepada yang ia ghibahi dan memohon maaf serta meminta kerelaannya atas kesalahan yang ia perbuat, 2). Jika yang dighibahi telah mengetahui, maka ia harus datang dan meminta kerelaannya, namun jika yang dighibahi tidak tahu, cukup dengan memohon ampun untuknya (mendoakannya) dan membicarakan kebaikan-kebaikannya ditempat-tempat ia mengghibahinya, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan.

Cara kedua inilah yang lebih maslahat sebagiamana dikuatkan oleh perkataan Ibnu Katsir : “Tidak disyaratkan orang yang menghibahi saudaranya meminta penghalalannya. Karena jika ia memberitahu, terkadang orang dighibahi lebih tersakiti jika dibandingkan dia belum tahu, maka jalan keluarnya hendaknya memuji dengan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya ditempat-tempat dimana ia telah mencela saudaranya. “

Akhirnya kita memohon kepada Allah Azza wa jalla untuk diberikan kekuatan dan hidayah agar kita tidak terjatuh dalam penyakit yang berbahaya ini, bahkan lebih dari itu perlu banyak menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berbicara kecuali sesuatu yang bermanfaat bagi pribadi maupun untuk kemaslahatan ummat. Wallahu waliyut taufiq.
I S T I Q O M A H

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.


Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka yang berkata: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka beristiqomah, maka tak ada baginya rasa takut dan duka cita. Meraka adalah penghuni syurga kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa-apa yang mereka perbuat”. (Qs. Al Ahqaaf/46:13-14).

Setiap muslim sadar, bahwa ia adalah makhluk yang diciptakan untuk tujuan ibadah kepada Allah. Ibadah dalam arti yang sebenarnya. Yakni, mengikhlaskan seluruh gerak kehidupan semata hanya kepada Allah Ta’ala, berupa perkataan dan perbuatan baik yang sifatnya lahir maupun batin.

Namun, dalam rangka merealisasikan hal tersebut, tak jarang seorang muslim dihadapkan oleh beraneka macam tantangan, rintangan ataupun makar. Baik berupa halangan atau makar yang sengaja diciptakan oleh musuh-musuh Islam (kaum kuffar), maupun yang berasal dari kaum muslimin lain yang rela atau tidak sadar telah menjadi kaki tangan thogut dan syetan.

Demikian pula manusia itu adalah makhluk yang lemah dan rentan terhadap ujian. Ditambah tabiat hati yang gampang terbolak-balik. Olehnya, kemungkinan tergelincir ke jurang maksiat dan dosa sangat besar. Makanya, tidak boleh tidak, setiap muslim butuh akan konsep istiqomah dalam hidup ini. Terlebih saat mana godaan, fitnah dan ujian telah meruap ke permukaan hingga tak ada yang bisa lepas dari cengkramannya.


Hakekat dan anjuran istiqomah.

Istiqomah artinya tegak dan lurus serta tidak condong. Dalam artian, sebagaimana ungkapan Umar Ibnul Khattab ra, tegar dan komit dalam menunaikan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan tuntunan Rasullullah shallallahu alaihi wasallam. Disamping tidak condong atau menyimpang kepada jalan-jalan lain yang menjerumuskan ke jurang kebinasaan.


Definisi ini, sebenarnya telah diisyaratkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tatkala membuat suatu garis lurus dengan tangan beliau, seraya bersabda:

قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأ : { إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ }

“Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat garis-garis lain di samping kiri dan kanannya, dan bersabda: “Ini adalah jalan-jalan (yang lain), tidak ada satupun darinya melainkan padanya ada syetan yang menyeru kepadanya”. Beliau lalu membaca ayat: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia; dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya”. (Qs. Al An’am/6:153). (HR. Ahmad no: 3928, al-Hakim no: 3199, Ibnu Hibban no: 6, berkata al-Haitsami dalam al-Majma' 3/158: Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazzar padanya ada perawi bernama 'Ashim bin Bahdalah, ia perawi tsiqoh namun ada kelemahan).

Mengingat pentingnya hal ini, maka Islam memberi perhatian yang besar dan mengarahkan umatnya agar berpegang kepadanya. Ta’ala berfirman: “Dan tetaplah kamu beristiqomah (berada di jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada yang telah bertaubat bersama kamu dan janganlah engkau melampaui batas”. (Qs. Huud/11:112).

Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihiwasallam kepada seorang yang minta diajarkan satu perkataan dalam Islam yang sangat agung:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

“Ucapkanlah: “Aku beriman, kemudian beristiqomahlah kamu”. (HR. Muslim no: 55, Ahmad no: 14869).



Sunnatullah, kebenaran pasti diuji.

Abdullah Ibnu Mas’ud berkata:

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Seakan aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengisahkan tentang seorang dari para anbiya alaihi salam yang dipukuli kaumnya hingga mengeluarkan darah. Lantas sambil menyeka darah yang mengalir menutupi wajahnya ia berdo’a: “Wahai Allah, ampuni kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. (Muttafaqun alaihi).

Sabda beliau di atas, mengajak kita agar selalu merenungi sirah perjalanan para anbiya terdahulu. Utamanya baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Bahwa perjuangan da’wah mereka dahulu, dipenuhi oleh berbagai onak dan cobaan. Tidak ada seorang rasul-pun, melainkan merasakan hal tersebut. Dan hal itu dirasakan pula orang-orang yang setia menyambut dan mengikuti seruan mulia mereka.

Namun onak dan rintangan itu tidak lantas membuat mereka patah semangat dan surut ke belakang. Bahkan sebaliknya, ia melahirkan satu optimis baru, dimana optimis tersebut terwarisi dari satu generasi ke generasi yang lain, "semakin hebat ujian dan cobaan pertanda nushrah (pertolongan) Allah Ta’ala sudah dekat". Syaratnya, istiqomah dan tidak putus asa.

Khabbab Ibnu Arats radhiallahu anhu berkata, kami pernah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kala beliau berbaring di bawah bayang-bayang ka’bah, lalu kami mengadukan perihal cobaan yang menimpa kami dan berkata:

أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

“Wahai Rasululah tidakkah engkau berdoa kepada Allah (agar menurunkan pertolongan)?” Beliau bersabda: “Sungguh sebelum kalian ada orang yang diserut dengan sisir besi hingga daging tubuhnya terpisah dari tulang. Namun hal itu tidak memalingkan ia dari agamanya. Ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji, lalu badannya dibelah menjadi dua bagian. Namun hal itu juga tidak dapat memalingkan ia dari agamanya. Sungguh, Allah Ta’ala akan merubah keadaan ini, hingga seorang berkendaraan dari San’a menuju Hadramaut merasa aman, dan tidak merasa takut melainkan hanya kepada Allah dan atas kambing-kambingnya dari terkaman serigala. Akan tetapi kalian terlalu tergesa-gesa”. (HR. Bukhari no: 3343 dan Ahmad no: 20161).


Keutamaan sikap istiqomah.
Barangkali, banyak dari kaum muslimin tidak menyadari kepentingan istiqomah dalam kehidupan beragama. Padahal, kedudukan istiqomah amat tinggi dan agung. Dengannya kekuatan dan eksistensi Islam tetap abadi di atas permukaan bumi.


Ketahuilah, Istiqomah menghasilkan banyak sekali buah yang bermanfaat bagi seorang muslim. Diantaranya:


Pertama: Malaikat akan turun kepadanya membawa rahmat, berkah, sakinah (ketenangan jiwa), kelapangan dan sebagainya. Karena, manusia itu mungkin saja didatangi oleh malaikat dengan rahmat, dan tidak jarang dikunjungi oleh syetan dengan membawa keburukan. Allah Ta’ala berfirman: “Maukah Aku beritahu, kepada siapakah syetan-syetan itu turun?, mereka turun kepada setiap pendusta lagi yang banyak berbuat dosa”. Mereka menyodorkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan kebanyakan mereka adalah manusia-manusia pendusta”. (Qs. Asy Syu’ara/26:221-223).

Kedua: Kabar gembira dari para malaikat, agar tidak takut dan sedih. Lantaran jika manusia dalam hidupnya selalu takut dan sedih, maka ia akan ditimpa rasa gelisah, susah dan pesimis. Dimana jika dibiarkan berlarut-larut, bukan saja menimbulkan efek buruk bagi hati, lebih dari itu, ia akan membinasakan jasmani secara perlahan.

Dikatakan pula, malaikat akan turun kepada mereka tatkala berada di ambang kematian. Maka dikabarkan kepadanya, agar jangan bersedih karena akan meninggalkan dunia, harta, keluarga dan sebagainya. Dan jangan pula merasa takut akan kehidupan akhirat yang dasyat. Tapi bergembiralah dengan syurga yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shaleh lagi istiqomah.

Ketiga: Nushrah dan pertolongan akan turun kepadanya. Lantaran istiqomah di atas jalan Allah, merupakan sebab utama yang dapat memancing pertolongan Allah Ta’ala turun. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka yang berkata: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa bersedih; dan bergembiralah kamu dengan dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat”. (Qs. Al Fushshilat/41:30).

Kata pelindung dalam ayat ini berarti penolong, pembela, penjaga, penghibur dan lain sebagainya. Yang tentunya khusus bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqomah.

Keempat: Orang yang selalu istiqomah, kelak akan menjadi pewaris syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat yang telah lalu.

Dari uraian di atas, jelaslah bagi ita akan hakekat istiqomah, keutamaan serta hajat setiap muslim kepadanya. Dan orang yang selalu istiqomah, akan menyikapi setiap ujian dan tantangan dengan hati yang lapang dan tenang serta bebas dari perasaan takut dan sedih. “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucpan yang teguh (yakni kalimah thayyibah) dalam kehidupan dunia dan akherat”. (Qs. Ibrahim/14:27).



Jalan menuju istiqomah.

Dalam bukunya al-Istiqomah, Syaikh Abdullah Bin Jarullah menyebutkan beberapa jalan mencapai istiqomah:

Pertama: Taubat. Yakni, membersihkan diri dari dosa dan maksiat, disertai perasaan menyesal serta tekad untuk tidak mengulangi kembali. Sungguh taubat yang dikerjakan dngan ikhlas, akan melahirkan sifat istiqomah. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang nasuha (sungguh-sungguh dan tukus), semoga Rabbmu akan menghapus kejahatan-kejahatanmu dan akan memasukkan kamu ke syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai”. (Qs.At thahrim/66:8).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali”. (HR. Muslim no: 4871, Ahmad no: 71714, Ibnu Hibban no: 931).

Kedua: Muraqobah (perasaan diawasi). Dalam artian, selalu merasakan adanya pengawasan Allah Ta’ala yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui. Ingat, sifat muraqobah, jika bersemayam dalam hati, akan melahirkan sifat ihsan yang merupakan puncak penghambaan diri seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“(Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu”. (Muttafaqun alaihi).

Ketiga: Muhasabah (intropeksi diri). Muslim yang berakal, sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah mereka yang senantiasa melakukan intropeksi diri. Sebaliknya, lalai terhadap perbuatan yang telah dilakukan baik berupa kebajikan atau keburukan, pertanda ia termasuk orang tertipu.

Muhasabah diri, berguna untuk mengingatkan diri sendiri tentang kekurangan dalam perkara amal shaleh. Di samping sebagai pemberi peringatan atas segala kelalaian dan dosa.

Alangkah indah ungkapan Umar Ibnul Khattab radhiallahu anhu,:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا ، و زنوا أنفسكم قبل أن توزنوا

“Hitung-hitunglah dirimu sebelum engkau dihitung. Timbanglah dirimu sebelum engkau ditimbang pada hari kiamat kelak”. (HR. al-Tirmidzi untuk lafadz pertama no: 2383, dan Ibnu Abi Syaibah no: 18. Syaikh al-Albani berkata dalam al-Silsilah al-Dhaifah no: 1201: Mauquf).

Keempat: Mujahadah (bersungguh-sungguh). Artinya, seorang muslim sadar, bahwa musuh utama yang harus ia hadapi adalah hawa nafsunya sendiri. Lantaran hawa nafsu itu senantiasa condong kepada tindak kejahatan dan kekejian. Allah Ta’ala berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”. (Qs. Yusuf/12:53).

Jika demikian keadaannya, sudah tentu ia akan termotivasi bermujahadah melawan hawa nafsu serta menolak segala ajakannya. Misalnya, tatkala nafsu mengajak untuk bermalas-malas dalam ibadah, spontan ia menolak dan mencelanya. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bermujahadah (berjuang) mencari keridhaan Kami, maka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan”. (Qs. Al Ankabut/29:69).

Kelima: Tadabbur. Yakni memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala di alam ini. Termasuk tadabbur akan sirah perjalanan para sholihin terdahulu. Allah Ta’ala mengingatkan: “Dan semua kisah dari Rasul-Rasu,l Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu”. (Qs. Huud/11:120).

Perhatikan kisah keteguhan iman tukang sihir Fir’aun tatkala menghadapi intimidasi Fir’aun (Qs. 20:71-72). Atau keberanian Ibrahim ketika dilempar ke dalam api yang membara (Qs. 21:69). Sudah tentu, kisah-kisah ini dapat menumbuhkan sikap istiqomah dan teguh dalam menjalankan ajaran dien. Wallahu a’lam.